Banyak legenda masyarakat yang beredar di masyarakat, khususnya masyarakat yang masih tinggal di pedesaan. Legenda ini diceritakan turun temurun dari nenek moyang kita dulu. Kali ini dalam postingan saya ini, saya ingin bercerita sedikit, tentang legenda yang beredar di kampung saya yang sudah diwarisi dari kakek moyang saya dulu. Begitu banyak cerita cerita legenda yang pada umumnya bersifat misteri dan sampai sekarang mungkin masih menjadi misteri yang belum terpecahkan. Apalagi legenda yang beredar di kampung saya banyak berkaitan dengan eksistensi makhluk tak kasat mata. Wajar saja, sebab kampung saya itu di kelilingi oleh perkebunan perkebunan besar dan ada sedikit hutan di sebelah timur. Areal perkebunan yang begitu luas menjadikan kampung saya begitu sepi bila malam hari, walaupun di kampung saya dilintasi oleh jalan propinsi yang membelah di tengah kampung, tetapi kesan seram tetap menyelimuti perkampungan saya, apalagi bila di malam hari. Ditambah dengan adanya sebuah bangunan bekas pabrik kayu terbesar yang dulu sempat jaya dan menjadi kebanggaan di kampung saya, kini kosong tak berpenghuni, walaupun bangunan bagian depan sudah difungsikan sebagai sebuah kantor. Tetapi bekas gudang gudang yang terletak di areal belakang, dibiarkan terbengkalai dan diselimuti kabut misteri. Baiklah tidak perlu berpanjang lebar kali ini saya coba menceritakan beberapa misteri yang berkembang di kampung saya dan menjadi sebuah legenda.
1. Titi Lele
Kalian pasti tahu titi kan? Atau kita biasa menyebutnya dengan jembatan. Ya, jembatan lele kami menyebutnya. Kenapa disebut titi lele? Konon pada masa orang tua saya dulu, bahkan saya sempat menyaksikan dengan mata kepala saya sendiri ketika saya berusia 9 tahun. Untuk pertama kalinya saya diajak ke tempat itu untuk mencari kayu hutan. Sebab di sekitar titi itu masih ada hutan kecil yang masih perawan, dan kabarnya sampai dengan saat ini hutan itu sudah menjadi hutan yang dilindungi, tidak sembarang orang boleh masuk. Kembali ke cerita saya tadi daerah hutan lindung ini berada di tengah tengah perkebunan karet, letaknya di sebuah lembah yang dipenuhi oleh pohon hutan dan flora jenis pakis pakisan. Ditengah hutan tersebut mengalir sebuah sungai kecil, tidak seperti sungai pada umumnya, ukurannya pun kecil, lebar 2 meter seperti selokan di kota Jakarta. Tapi jangan ditanya airnya, airnya begitu jernih dan belum terkontaminasi, bahkan banyak beberapa pekerja kebun yang kebetulan melintas dan kehausan, memanfaatkan airnya sebagai air minum, tanpa dimasak, langsung bisa diminum. Saya pun pernah membuktikannya, bahkan air kali yang saya masukkan ke dalam botol air minum kemasan ukuran 600ml, habis saya minum. Tidak ada efek apa apa, sakit perut pun tidak. Air nya segar dan tidak berbau, seperti ada manis manisnya. Seperti slogan iklan ya. Kembali ke cerita saya, kenapa disebut dengan titi lele, karena pada saat saya berusia 9 tahun kali yang berada tepat di bawah jembatan kayu yang disebut titi lele tersebut dipenuhi oleh ikan lele. Saya pun pernah menyaksikan langsung, tapi tidak ada satu pun dari kami yang berani menangkapnya. Konon, ikan ikan lele tersebut adalah ikan peliharaan penunggu kali. Wallahu'alambissawaf. Tapi seiring perkembangan waktu dan semakin ramainya orang yang lalu lalang di tempat itu, sudah tidak ditemukan ikan ikan lele tersebut. Tidak tahu kemana. Cerita yang berkembang di masyarakat dan saya mendengar langsung dari orang tua saya, pada masa penjajahan Belanda, pernah ada peristiwa mistis yang terjadi di daerah tersebut. Tentang hilangnya rombongan pekerja kebun sebanyak 1 grup. 1 grup tersebut terdiri dari beberapa orang pekerja, mandor, dan asisten. Sampai sekarang misteri tersebut belum terpecahkan. Cerita yang beredar di masyarakat, mereka telah masuk ke dalam dunia ghaib. Sebab kabar yang beredar di area titi lele merupakan perkampungan dari makhluk tak kasat mata, kalau di kampung kami mengatakan orang bunian. Ada lagi peristiwa unik yang pernah saya alami ketika saya berusia 12 tahun. Pada saat itu tepat bulan Ramadhan, dan kebiasaan saya di kampung, cara mengisi waktu liburan adalah dengan memancing. Saya berangkat bertiga dengan teman saya, tujuannya ke titi lele. Sesampainya di sana kami mulai memancing dengan teknik pelanjer. Bingungkan? Pelanjer itu teknik memancing dengan cara membawa banyak joran, tetapi panjang tali pancing maksimal 2 meter setiap jorannya. Jadi kami pasang saja setiap joran pada titik titik yang menjadi tempat berkumpulnya ikan. Sambil menunggu pancing, kami sesekali bercanda. Di tengah kesibukan kami memungut pancing, saya merasa ada yang memanggil nama saya, suaranya terdengar keras, bahkan teman saya pun mendengarnya. Tapi panggilan itu tidak kami jawab, karena legenda yang ada di masyarakat kami kalau berada di tengah hutan dan ada yang memanggil nama kita, jangan pernah di sahuti, karena kalau kita sahut, kita akan hilang. Sebab panggilan itu bukan berasal dari manusia, panggilan itu berasal dari orang bunian. Makanya kalau berada di hutan atau perkebunan, jika ingin memanggil teman, tidak boleh dengan langsung disebut namanya, tapi harus dengan isyarat seperti "hoi". Kembali ke peristiwa yang saya alami, setelah nama saya dipanggil. Tidak berapa lama, teman saya yang dipanggil, dengan sebutan namanya, dan terdengar jelas di telinga saya. Dan suaranya mirip dengan suara teman kami, tetapi kami tidak menghiraukannya. Sampai waktu ashar tiba, kami pun bergegas pulang. Sewaktu diperjalanan, kebetulan jalan yang kami lalui untuk menuju rumah saya melewati rumah teman saya yang menurut kami dia orang yang memanggil kami di hutan. Sesampainya di rumahnya, kami bertemu dengan orangtuanya, kami tanya keberadaanya. Anehnya orang tuanya mengatakan bahwa dari selesai zuhur teman saya tertidur di kamarnya sampai dengan sekarang. Kami yang merasa tidak percaya mencoba masuk ke kamarnya. Benar yang kami lihat, teman saya tersebut sedang tidur dengan pulas. Dan orang orang di sekitar rumahnya juga mengatakan bahwa dia satu harian di rumah, karena sedang sakit. Nah, jadi yang memanggil tadi siapa? Kami saling berpandangan. Cerita lain dari tempat ini, pada masa kakek saya dulu. Setiap malam Jumat akan terdengar suara seperti orang yang mengadakan hiburan gending yang diiringi suara gamelan. Dan suaranya sampai terdengar dengan rumah kakek saya, karena bertepatan rumah kakek saya hampir di ujung kampung. Bahkan suatu ketika kakek saya pernah terkecoh. Selepas isya kakek saya pamit kepada ibu saya mau melihat hiburan di kampung sebelah. Dengan membawa sepeda ontel kesayangannya dia pun berangkat. Kebetulan jalan ke kampung yang dituju arahnya ke selatan yang bila di tarik garis lurus, jaraknya tidak jauh dari titi lele. Pada saat kakek saya melewati jalan itu, suaranya begitu jelas terdengar oleh kakek saya. Dia pun gembira karena malam ini bisa dilewatkan dengan menyaksikan hiburan. Maklum pada masa itu hiburan satu satunya ya kalau ada yang punya hajatan dan mengadakan acara hiburan seperti wayang kulit. Tapi sekarang ya sudah tidak ada. Tetapi semakin mendekati kampung yang dia tuju, suara itu semakin samar. Sesampainya di kampung tersebut, kebetulan ada teman kakek saya. Kakek saya pun bertanya perihal siapa yang punya hajatan dan mengadakan hiburan. Teman kakek saya heran. Setahu dia pada hari itu tidak ada satu pun penduduk kampung tempat dia tinggal mengadakan hajatan. Di kampung sebelah pun tidak ada. Dengan perasaan kesal kakek saya pun balik kanan, langsung pulang. Nah ketika melewati jalan yang berdekatan dengan hutan tempat dimana ada keberadaan titi lele, suara gamelan itu kembali terdengar, bahkan kali ini kesaksian kakek saya, suaranya semakin keras dan semakin ramai. Sambil berjalan dia pun mengingat ingat. Ternyata, hari ini adalah hari kamis, jadi sekarang malam jumat. Nah, loh?
2. Blok 20
Area ini berada tepat di pinggir jalan lintas sumatera, tepatnya di ujung kampung ke arah Kota, dan 500 meter setelah sekolah menengah yang ada di kampungku. Area ini bila dilihat dengan kasat mata hanya sebuah jalan menurun, dan tepat seperti lembah. Dan di kiri dan kanan diapit pohon pohon karet. Tapi, area ini merupakan area rawan kecelakaan. Tidak tahu sebabnya kenapa, padahal secara kasat mata jalan lurus, pandangan jelas tidak ada penghalang, jalannya menurun kemudian menanjak. Tapi herannya sudah banyak nyawa yang meregang di area ini. Kabarnya area ini merupakan lalu lalang orang bunian, karena bila di kita menghadap ke arah timur dan kita tarik garis lurus, maka area ini segaris dengan hutan lindung yang sempat saya uraikan di atas, dimana di bagian tengah hutan tersebut terdapat titi lele. Menurut cerita yang beredar di tepi jalan ini juga merupakan tempat eksistensi makhluk astral. Pernah suatu ketika ada seorang pencari daun pakis, dia biasanya sering mencari sayur sayuran liar yang tumbuh di areal kebun seperti daun singkong, genjer, kangkung, dan pakis untuk kemudian dijual kepada penduduk kampung. Pada siang itu dia berniat mencari daun pakis di sekitar blok 20. Memang di areal blok 20 banyak di temui daun pakis liar dan pakis yang bisa dikonsumsi banyak tumbuh di daerah ini. Penduduk kampung biasanya sering mengambilnya untuk dikonsumsi sendiri, bukan untuk dijual. Nah, pada saat si penjual sayur asik memetik daun pakis, tiba tiba muncul seorang laki laki kate di hadapannya. Badannya pendek setinggi kira kira setengah meter, kulitnya hitam, kepalanya botak, wajahnya seperti orang dewasa, dengan tatapan melotot seakan akan marah. Tanpa pikir panjang, si penjual sayur langsung kabur, dengan meninggalkan sayur yang telah dipetiknya. Sesampainya di kampung dia pun menceritakan pengalaman yang dialaminya. Tetapi anehnya, bila ada yang memetik daun pakis untuk dikonsumsi sendiri, tidak pernah menjumpai hal hal seperti itu.
Itu 2 kisah legenda yang ada di kampung saya, tapi belum semua saya posting. Saya mencoba untuk menggali kembali. Tapi agan dan sista, apa yang saya tulis ini bukan coba untuk menakuti atau membuat kesan seram, tujuan saya hanya sebagai hiburan dan hanya untuk sedikit menyadarkan bahwa makhluk yang ada di dunia ini tidak hanya makluk yang kasat mata, Alloh SWT juga menciptakan makhluk yang tak kasat mata. Kita hidup berdampingan dengan mereka. Bukan berarti kita harus takut dengan mereka. Tetapi hanya mengingatkan sebaiknya dalam segala aktivitas dan kegiatan kita selalu awali dengan meminta perlindungan kepada Sang Penguasa Alloh SWT.
Itu 2 kisah legenda yang ada di kampung saya, tapi belum semua saya posting. Saya mencoba untuk menggali kembali. Tapi agan dan sista, apa yang saya tulis ini bukan coba untuk menakuti atau membuat kesan seram, tujuan saya hanya sebagai hiburan dan hanya untuk sedikit menyadarkan bahwa makhluk yang ada di dunia ini tidak hanya makluk yang kasat mata, Alloh SWT juga menciptakan makhluk yang tak kasat mata. Kita hidup berdampingan dengan mereka. Bukan berarti kita harus takut dengan mereka. Tetapi hanya mengingatkan sebaiknya dalam segala aktivitas dan kegiatan kita selalu awali dengan meminta perlindungan kepada Sang Penguasa Alloh SWT.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar